Anak tidak harus mengikuti kursus mahal atau menghafal ratusan kosakata setiap hari agar semakin lancar berbahasa Inggris. Orang tua dapat membantu dengan memberikan paparan bahasa secara rutin melalui percakapan sederhana, membaca buku, lagu, permainan, dan aktivitas sehari-hari. Kuncinya adalah konsistensi, interaksi dua arah, materi sesuai usia, serta menciptakan lingkungan yang membuat anak tidak takut melakukan kesalahan.
pagakablangkat – Kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu skill yang banyak ingin diperkenalkan orang tua sejak anak masih kecil. Wajar saja, bahasa Inggris digunakan secara luas dalam pendidikan, teknologi, hiburan, hingga komunikasi internasional. Namun, mengajarkan bahasa kedua kepada anak tidak harus membuat suasana rumah berubah menjadi ruang kelas.
Anak dapat belajar bahasa melalui interaksi dan pengalaman yang meaningful. Harvard Center on the Developing Child menekankan pentingnya interaksi responsif dua arah atau serve and return dalam mendukung perkembangan bahasa dan kemampuan sosial sejak dini. Prinsipnya relevant ketika mengenalkan bahasa Inggris: anak membutuhkan kesempatan mendengar, merespons, dan menggunakan bahasa, bukan sekadar menonton atau menghafal.
1. Mulai dari Percakapan Bahasa Inggris yang Sederhana
Tidak perlu langsung mengajak anak berdiskusi menggunakan kalimat complicated. Mulailah dari ungkapan sederhana yang sering digunakan setiap hari, seperti “Good morning”, “Let’s eat”, “Thank you”, “Are you ready?”, atau “Time to sleep”. Karena konteksnya berulang, anak perlahan dapat menghubungkan kalimat dengan aktivitas.
Orang tua juga tidak harus menggunakan bahasa Inggris sepanjang hari. Tentukan beberapa momen tertentu, misalnya ketika sarapan, bermain, atau bersiap tidur. Pendekatan seperti ini lebih realistic untuk keluarga yang sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia.
Yang penting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk merespons. Jika orang tua bertanya “What do you want?”, tunggu anak mencoba menjawab meskipun baru satu atau dua kata. Conversation works both ways.
2. Jangan Terlalu Fokus pada Grammar di Awal
Ketika anak mengatakan kalimat bahasa Inggris yang grammar-nya belum tepat, hindari langsung mengoreksi setiap kata. Terlalu banyak koreksi dapat membuat percakapan terasa seperti ujian. Anak akhirnya bisa menjadi takut berbicara karena khawatir salah.
Orang tua bisa menggunakan teknik recasting, yaitu merespons dengan bentuk kalimat yang benar tanpa mempermalukan anak. Misalnya, anak mengatakan “She go to school”, orang tua dapat menjawab, “Yes, she goes to school every morning.” Anak mendapatkan model bahasa yang tepat sambil percakapan tetap berjalan.
Grammar tentunya tetap penting seiring bertambahnya usia dan kebutuhan akademis. Namun, untuk membangun keberanian berbicara, communication comes first. Akurasi dapat berkembang secara bertahap bersama paparan dan pembelajaran.
3. Bacakan Buku Bahasa Inggris Setiap Hari

Buku dapat memperkenalkan kosakata yang mungkin jarang muncul dalam percakapan sehari-hari. Anak juga memperoleh konteks melalui cerita dan ilustrasi. Karena itu, membaca bersama menjadi aktivitas yang useful untuk memperkaya exposure terhadap bahasa.
Untuk pemula, pilih picture book dengan kalimat pendek dan pola berulang. Tunjukkan gambar sambil menyebutkan kata, kemudian ajukan pertanyaan sederhana seperti “What is this?”, “What color is it?”, atau “Where is the cat?” Aktivitas membaca kemudian berubah menjadi interaksi dua arah.
Tidak masalah jika anak meminta buku yang sama berkali-kali. Repetition justru memberikan kesempatan untuk mendengar kosakata dan struktur kalimat berulang. Setelah familiar, anak mungkin mulai ikut menyelesaikan kalimat atau menceritakan kembali bagian favoritnya.
4. Gunakan Lagu Bahasa Inggris
Lagu merupakan salah satu cara fun untuk mengenalkan bunyi, ritme, dan kosakata bahasa Inggris. Anak bisa belajar nama anggota tubuh, angka, warna, hewan, atau aktivitas melalui lagu. Melody dan repetition juga membuat beberapa kata lebih mudah diingat.
Untuk anak kecil, pilih lagu dengan gerakan. Ketika mendengar kata “hands”, misalnya, ajak anak menunjukkan tangannya. Hubungan antara suara, kata, dan tindakan membantu membuat makna lebih concrete.
Namun, jangan hanya memutar lagu sebagai background sepanjang hari. Sesekali bernyanyi bersama dan ajak anak mengikuti gerakan atau kata-katanya. Active participation jauh lebih meaningful daripada sekadar membiarkan audio terus menyala.
5. Jadikan Bahasa Inggris Bagian dari Waktu Bermain

Belajar bahasa tidak harus selalu menggunakan worksheet. Pretend play atau bermain pura-pura bisa menjadi kesempatan menggunakan bahasa Inggris secara natural. Anak bisa bermain restoran, supermarket, dokter-dokteran, atau sekolah dengan beberapa kalimat sederhana.
Saat bermain restoran, misalnya, gunakan kalimat “What would you like?”, “I want some noodles”, atau “Here you are”. Tidak perlu memaksa seluruh percakapan menggunakan bahasa Inggris. Campuran bahasa dapat digunakan sebagai jembatan ketika anak belum mengetahui suatu kata.
Permainan membuat bahasa mempunyai fungsi nyata. Anak tidak sekadar menghafal bahwa “apple” berarti apel, tetapi menggunakan kata tersebut ketika sedang pura-pura membeli makanan. Context makes vocabulary easier to understand.
6. Gunakan Film dan Video sebagai Pendukung, Bukan Guru Utama
Kartun dan video berbahasa Inggris dapat memberikan tambahan exposure terhadap pronunciation, vocabulary, dan ekspresi. Namun, screen time sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya strategi belajar bahasa. Interaksi langsung tetap sangat important, khususnya untuk anak kecil.
American Academy of Pediatrics menekankan pentingnya kualitas, konteks, dan pendampingan dalam penggunaan media digital anak. Jika menggunakan video sebagai media belajar, orang tua dapat menonton bersama dan mengajak anak membicarakan apa yang dilihat. Dengan begitu, aktivitas layar menjadi lebih interactive.
Misalnya, setelah karakter mengatakan “The dog is running”, orang tua bisa bertanya, “What is the dog doing?” Anak kemudian mencoba mengambil bahasa dari video dan menggunakannya dalam percakapan. That’s much better than passive watching.
7. Perbanyak Kosakata dari Benda di Rumah
Rumah sebenarnya penuh dengan materi belajar gratis. Meja, pintu, jendela, sendok, sepatu, tempat tidur, dan mainan dapat menjadi sumber kosakata. Orang tua tinggal memasukkannya ke percakapan sehari-hari.
Daripada hanya meminta anak menghafal “door = pintu”, gunakan kata tersebut dalam kalimat. Misalnya, “Please close the door” atau “The door is open”. Anak kemudian memahami fungsi kata melalui konteks.
Setelah anak menguasai nama benda, lanjutkan ke kata sifat dan kata kerja. Dari “ball”, misalnya, berkembang menjadi “red ball”, “big ball”, “throw the ball”, dan “catch the ball”. Vocabulary grows through connections.
8. Beri Kesempatan Anak Berbicara

Anak bisa memahami banyak bahasa Inggris tetapi belum tentu percaya diri menggunakannya. Kondisi ketika kemampuan memahami lebih besar daripada kemampuan berbicara cukup wajar dalam proses belajar bahasa. Jangan langsung menganggap anak tidak mengalami perkembangan hanya karena masih jarang berbicara.
Ciptakan situasi yang membuat anak perlu memberikan respons sederhana. Misalnya, berikan pilihan “Do you want milk or water?” daripada pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban “yes” atau “no”. Perlahan, tingkatkan kompleksitas pertanyaannya.
Berikan waktu untuk berpikir sebelum membantu. Orang dewasa terkadang terlalu cepat menjawab pertanyaan sendiri ketika anak diam beberapa detik. A little waiting time memberi kesempatan kepada anak mencari kata yang ingin digunakan.
9. Jangan Menertawakan Pronunciation Anak
Pengucapan bahasa Inggris membutuhkan waktu untuk berkembang. Anak mungkin mengucapkan beberapa kata dengan aksen atau bunyi yang belum sempurna. Respons orang dewasa dapat menentukan apakah mereka tetap percaya diri untuk mencoba.
Hindari menertawakan kesalahan pronunciation meskipun terdengar lucu. Sebaliknya, ulangi kata tersebut dengan pengucapan yang benar secara natural. Anak mendapatkan contoh tanpa merasa sedang dikritik.
Perlu diingat pula bahwa kemampuan berbahasa Inggris tidak identik dengan harus mempunyai aksen Amerika atau Inggris. Banyak orang di dunia menggunakan bahasa Inggris dengan beragam aksen. Yang lebih important adalah kemampuan berkomunikasi dengan jelas dan memahami lawan bicara.
10. Lakukan Secara Konsisten, Tidak Harus Lama
Belajar bahasa merupakan proses jangka panjang. Sesi singkat tetapi dilakukan rutin sering lebih practical daripada belajar berjam-jam sekali seminggu lalu tidak menggunakan bahasa Inggris sama sekali pada hari lainnya. Integrasikan bahasa ke rutinitas agar exposure terjadi secara natural.
Misalnya, lima belas menit membaca buku sebelum tidur, bernyanyi saat perjalanan, dan beberapa kalimat bahasa Inggris ketika sarapan. Aktivitas tersebut mungkin terlihat kecil jika dilakukan sekali. Namun, jika menjadi kebiasaan selama berbulan-bulan, jumlah paparan bahasanya akan bertambah.
Jangan terlalu obsessed mengejar hasil cepat. Ada anak yang mulai aktif berbicara lebih awal dan ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Consistency over intensity merupakan prinsip yang lebih sustainable.
Kekhawatiran ini cukup common pada keluarga bilingual. Namun, penggunaan lebih dari satu bahasa tidak otomatis menyebabkan anak mengalami gangguan bahasa. American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) menjelaskan bahwa anak dapat belajar lebih dari satu bahasa, dan penggunaan beberapa bahasa tidak menyebabkan atau memperburuk masalah bicara maupun bahasa.
Anak bilingual juga mungkin mencampurkan bahasa dalam satu kalimat. Hal tersebut dapat menjadi bagian normal dari perkembangan multibahasa dan tidak otomatis berarti mereka kebingungan. Seiring meningkatnya pengalaman dengan masing-masing bahasa, anak belajar kapan dan dengan siapa bahasa tertentu digunakan.
Orang tua therefore tidak perlu meninggalkan bahasa Indonesia atau bahasa daerah demi mengejar bahasa Inggris. Bahasa yang digunakan keluarga mempunyai nilai komunikasi, budaya, dan emosional. Multilingualism tidak harus menjadi kompetisi antara satu bahasa dengan bahasa lainnya.
Orang Tua Tidak Fasih Bahasa Inggris, Apa Tetap Bisa Mengajarkan?
Bisa membantu, tetapi jangan merasa harus menggunakan bahasa Inggris yang tidak dikuasai sama sekali. Orang tua dapat menggunakan materi berkualitas seperti buku dengan audio, lagu, atau sumber pendidikan untuk memberikan model pronunciation. Belajar bersama anak juga merupakan pilihan yang perfectly fine.
Kalimat yang digunakan tidak perlu complicated. Fokus pada ungkapan sederhana yang sudah dipahami dengan benar. Lebih baik menggunakan beberapa kalimat secara konsisten daripada memaksakan percakapan panjang yang membuat orang tua dan anak sama-sama tidak nyaman.
Jika anak sudah lebih besar dan membutuhkan kemampuan akademis atau conversational yang lebih tinggi, kelas dengan pengajar kompeten dapat menjadi tambahan. Kursus merupakan tool, bukan satu-satunya jalan menuju kemampuan bahasa Inggris. Lingkungan dan penggunaan bahasa di luar kelas tetap berperan.
Hindari Memaksa Anak Menghafal Terlalu Banyak Kata
Flashcard bisa useful, tetapi jangan menjadikannya satu-satunya cara belajar. Mengetahui bahwa “beautiful” berarti “indah” berbeda dengan memahami bagaimana kata tersebut digunakan dalam percakapan. Vocabulary becomes useful ketika anak dapat mengenali dan menggunakannya dalam konteks.
Setelah mengenalkan kata baru, gunakan dalam cerita atau percakapan. Misalnya, setelah belajar kata “hungry”, gunakan ketika mendekati waktu makan: “Are you hungry?” Anak kemudian menghubungkan kata dengan sensasi yang benar-benar mereka alami.
Cara ini membuat bahasa terasa lebih hidup. Anak belajar bahwa bahasa Inggris bukan sekadar mata pelajaran yang memiliki nilai ujian. Bahasa adalah alat untuk menyampaikan sesuatu.
Sesuaikan Cara Belajar dengan Usia Anak
Anak prasekolah biasanya lebih cocok belajar melalui lagu, permainan, cerita, gambar, dan interaksi. Mereka belum membutuhkan penjelasan grammar yang panjang. Aktivitas perlu dibuat singkat dan engaging.
Anak usia sekolah dapat mulai mendapatkan aktivitas lebih terstruktur. Selain percakapan dan membaca, mereka bisa mencoba menulis kalimat sederhana, membaca graded readers, atau bermain word games. Materi dapat semakin challenging mengikuti perkembangan kemampuan.
Remaja membutuhkan pendekatan berbeda lagi. Film, podcast, buku, game, diskusi mengenai hobi, atau percakapan dengan penutur lain dapat menjadi sumber exposure. The method should grow with the child.
Keinginan orang tua agar anak fasih bahasa Inggris memang understandable. Namun, target tersebut sebaiknya tidak membuat setiap percakapan berubah menjadi tes. Jika anak terus ditanya arti kata atau diminta tampil berbicara di depan orang lain, mereka bisa merasa bahasa Inggris identik dengan pressure.
Berikan pujian pada usaha, bukan hanya jawaban benar. Ketika anak mencoba kalimat baru meskipun belum sempurna, apresiasi keberaniannya. Setelah itu, orang tua dapat memberikan model kalimat yang lebih tepat secara natural.
Lingkungan yang aman membuat anak lebih willing to experiment with language. Dan dalam belajar bahasa, willingness untuk terus mencoba merupakan bagian yang sangat valuable.
“Lancar” sebenarnya bukan satu milestone yang mempunyai tanggal pasti. Kemampuan bahasa terdiri dari beberapa aspek, termasuk listening, speaking, reading, dan writing. Anak bisa sangat baik memahami percakapan tetapi kemampuan menulisnya masih berkembang, atau sebaliknya.
Perkembangan juga dipengaruhi seberapa sering anak mendapat paparan dan kesempatan menggunakan bahasa. Anak yang menggunakan bahasa Inggris setiap hari secara natural akan mempunyai pengalaman berbeda dari anak yang hanya belajar satu jam seminggu. Karena itu, membandingkan progress antar-anak sering tidak fair.
Daripada fokus pada label fluent, lihat perkembangan konkret. Apakah kosakatanya bertambah? Apakah anak semakin memahami cerita? Apakah mereka mulai berani membuat kalimat sendiri? Progress seperti ini lebih useful untuk dipantau.
Cara agar anak lancar bahasa Inggris tidak harus dimulai dari kelas mahal atau hafalan vocabulary dalam jumlah besar. Orang tua dapat membangun exposure melalui percakapan sederhana, membaca buku, lagu, permainan, aktivitas sehari-hari, serta media digital yang digunakan secara berkualitas. Yang paling penting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk benar-benar menggunakan bahasa.
Hindari terlalu sering mengoreksi, menertawakan pronunciation, atau membuat anak merasa sedang diuji setiap kali berbicara. Biarkan kemampuan berkembang melalui interaksi yang konsisten dan sesuai usia. Make English part of everyday life, bukan sesuatu yang hanya muncul ketika waktunya belajar.
Referensi
- Harvard University – Center on the Developing Child. Serve and Return: Back-and-Forth Exchanges.
- American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). Learning More Than One Language.
- American Academy of Pediatrics (AAP). Sumber mengenai perkembangan bahasa, literasi dini, dan penggunaan media pada anak.
- UNICEF Parenting. Sumber mengenai perkembangan bahasa, komunikasi, bermain, dan pembelajaran anak usia dini.
- National Association for the Education of Young Children (NAEYC). Sumber mengenai perkembangan bahasa dan pembelajaran berbasis bermain pada anak.
- Reading Rockets. Sumber mengenai membaca bersama, kosakata, dan perkembangan literasi anak.