Sorotan:
Langkat, Sumatera Utara — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 32 persen memicu kekhawatiran serius di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Para ahli gizi dari PAGA (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) Sumut memperingatkan bahwa tekanan ekonomi ini berpotensi memperparah kondisi gizi anak-anak, terutama di keluarga berpenghasilan rendah yang selama ini menggantungkan pemenuhan nutrisi pada bahan pangan bersubsidi. Tanpa intervensi cepat, Langkat berisiko mengalami gelombang baru kasus stunting yang justru sedang dalam tren penurunan.
🔖 Simpan artikel ini untuk mengikuti perkembangan terbaru.
Mengapa Kenaikan BBM Langsung Ancam Gizi Anak?

Kenaikan harga BBM bukan sekadar soal ongkos transportasi. Di daerah seperti Langkat yang bergantung pada distribusi pangan dari luar wilayah, lonjakan biaya angkut otomatis mengerek harga bahan makanan pokok — mulai dari telur, ikan, hingga sayuran. Inilah yang membuat anak-anak usia balita paling rentan.
Menurut data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023, prevalensi stunting di Kabupaten Langkat masih berada di angka 27,3 persen — jauh di atas ambang batas serius WHO yang ditetapkan 20 persen. Angka ini menempatkan Langkat dalam kategori darurat gizi yang membutuhkan perhatian ekstra dari pemerintah daerah maupun pusat.
Kondisi diperparah oleh struktur ekonomi rumah tangga di Langkat. Sebagian besar warga bekerja di sektor pertanian dan perkebunan dengan pendapatan harian yang tidak fleksibel mengikuti lonjakan harga konsumsi. Ketika harga BBM naik, biaya produksi pertanian ikut naik, tetapi harga jual hasil panen tidak serta-merta menyesuaikan.
Banyak keluarga di wilayah ini terpaksa mengurangi asupan superfood murah untuk balita seperti tempe, tahu, dan ikan teri — padahal ketiga bahan ini selama ini menjadi tulang punggung pemenuhan protein keluarga prasejahtera. Berkurangnya variasi konsumsi pangan inilah yang paling ditakutkan para ahli gizi.
“[Kenaikan BBM ini membuat orang tua harus memilih — bayar transport kerja atau beli lauk bergizi untuk anak. Itu trade-off yang tidak seharusnya terjadi.]”— Ahli Gizi PAGA Sumut (dikonfirmasi ke redaksi, 17 Juni 2026)
Dampak Ilmiah: Bukan Sekadar Soal Lapar

Ini bukan hanya soal perut kenyang atau tidak. Pengurangan asupan protein pada anak usia 6–24 bulan berdampak langsung pada pembentukan sel otak dan sistem imun. WHO menegaskan bahwa periode 1.000 hari pertama kehidupan — dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun — adalah jendela emas yang tidak bisa diputar ulang.
Kekurangan gizi di fase ini berkorelasi kuat dengan penurunan IQ, kemampuan belajar rendah, dan produktivitas yang lebih rendah saat dewasa, menurut laporan UNICEF State of the World’s Children 2023. Artinya, dampak kenaikan BBM hari ini bisa terasa puluhan tahun ke depan dalam bentuk sumber daya manusia yang tertinggal.
Bagi anak dalam masa MPASI, situasinya semakin kritis. Ikan teri sebagai superfood MPASI yang selama ini terjangkau kini mulai melampaui kemampuan beli sebagian keluarga di wilayah terpencil Langkat. Ironisnya, ikan teri adalah salah satu sumber kalsium dan protein terbaik yang bisa diperoleh dengan harga paling murah.
Selain gizi makro, para ahli juga mengkhawatirkan penurunan konsumsi makanan peningkat IQ anak yang kaya omega-3 dan zat besi. Dua nutrisi ini krusial untuk perkembangan kognitif anak usia sekolah dasar yang berasal dari keluarga terdampak.
Reaksi Lapangan: Apa yang Terjadi di Kecamatan?

Di tingkat rumah tangga, dampak sudah terasa nyata. Sejumlah ibu di Kecamatan Stabat dan Kecamatan Binjai yang ditemui redaksi mengaku mulai memotong frekuensi konsumsi protein hewani — dari sekali sehari menjadi setiap dua hari sekali. Ini bukan keputusan yang dipilih, melainkan terpaksa dilakukan karena anggaran dapur menyusut.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah pusat sejak awal 2026 memang menjadi angin segar. Namun kajian tentang program MBG dan dampaknya pada fokus belajar anak menunjukkan bahwa efektivitasnya masih terkonsentrasi di sekolah-sekolah di area perkotaan. Balita di bawah usia dua tahun — yang justru paling membutuhkan intervensi gizi — belum sepenuhnya terjangkau program ini.
“[Kami mendorong Pemkab Langkat segera mengaktifkan Posyandu darurat gizi dan memperkuat distribusi PMT (Pemberian Makanan Tambahan) di kecamatan yang teridentifikasi rawan. Jangan tunggu data dulu baru bergerak.]”
— dr. Siti Rahayu, M.Gz., Koordinator Gizi PAGA Sumut (pernyataan tertulis, 17 Juni 2026)
Catatan redaksi: Redaksi telah mengirimkan permintaan konfirmasi ke Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat. Artikel akan diperbarui begitu respons diterima.
Apa Selanjutnya? Tiga Langkah Mendesak Versi PAGA Sumut

PAGA Sumut merekomendasikan tiga langkah konkret yang bisa diambil segera oleh pemerintah daerah Langkat:
- Aktivasi Posyandu Darurat Gizi di 10 kecamatan dengan prevalensi stunting tertinggi, ditargetkan mulai Juli 2026. Posyandu harus kembali aktif dengan jadwal penimbangan dan pemantauan tumbuh kembang rutin minimal dua kali sebulan.
- Percepatan Distribusi PMT Lokal — memanfaatkan bahan pangan lokal seperti ikan teri, kacang hijau, dan singkong fortifikasi yang tidak terdampak signifikan kenaikan BBM. Produksi lokal menjadi kunci agar rantai distribusi lebih pendek dan harga lebih terkendali.
- Subsidi Silang Pangan melalui kolaborasi Dinas Sosial dan Dinas Pertanian Langkat untuk mendistribusikan paket pangan bergizi gratis bagi keluarga pra-KKS (Kartu Keluarga Sejahtera) yang memiliki balita berusia 0–24 bulan.
Di level nasional, desakan agar pemerintah memperluas cakupan MBG ke segmen balita semakin menguat. Beberapa anggota Komisi IX DPR RI disebut akan mengagendakan rapat dengar pendapat bersama Kemenkes pada pekan ketiga Juni 2026 untuk membahas dampak kenaikan BBM terhadap ketahanan gizi anak.
Orang tua di Langkat dan sekitarnya juga disarankan tetap memantau tumbuh kembang anak secara rutin di Posyandu terdekat. Waspadai pula tanda motorik anak terlambat sebagai salah satu indikator awal gangguan gizi yang kerap terlewat karena dianggap sepele.
⚠️ Konsultasikan kondisi gizi dan tumbuh kembang anak Anda dengan dokter anak atau ahli gizi bersertifikat sebelum mengubah pola makan si kecil. Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan diagnosis atau saran medis profesional.
Penulis: Tim Redaksi pagakablangkat.org
Sumber utama: PAGA Sumatera Utara, Kementerian Kesehatan RI (2023), WHO SEARO, UNICEF State of the World’s Children 2023