Ringkasan Cepat:
- Riset SEAMEO RECFON pada 4.292 siswa di 12 kabupaten/kota menemukan kekurangan folat, kalsium, vitamin C, dan seng masih terjadi dari jenjang SD hingga SMA.
- Temuan ini akan disampaikan ke Badan Gizi Nasional (BGN), Kemenkes, dan Kemendikdasmen sebagai bahan kebijakan, bukan evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Anak dengan berat badan normal tetap bisa kekurangan zat gizi mikro karena masalahnya ada di kualitas asupan, bukan hanya jumlah kalori.
Anak yang tampak lincah dan berat badannya normal ternyata belum tentu bebas masalah gizi. Riset terbaru SEAMEO Regional Centre for Food and Nutrition (RECFON) terhadap 4.292 siswa SD hingga SMA di 12 kabupaten/kota menemukan kekurangan zat gizi mikro seperti folat, kalsium, vitamin C, dan seng masih terjadi di semua jenjang. Temuan itu dipaparkan dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Kenapa Anak Bisa “Terlihat Sehat” tapi Kurang Gizi Mikro?

Selama ini perhatian orang tua sering tertuju pada berat dan tinggi badan anak. Padahal, gizi mikro — vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil — bekerja di balik layar untuk mendukung daya tahan tubuh, fungsi otak, dan pertumbuhan tulang. Kekurangannya tidak selalu terlihat dari fisik.
Menurut riset SEAMEO RECFON yang dikoordinasikan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), metode penelitian menggabungkan wawancara asupan makanan (recall 24 jam) dengan pemeriksaan biomarker laboratorium — bukan sekadar observasi berat badan. Hasilnya, kekurangan folat menjadi masalah paling dominan di jenjang SD. Di tingkat SMP, defisiensi didominasi kekurangan folat, kalsium (44%), vitamin C, dan seng. Sementara di SMA, masalah utama kembali berkisar pada folat, kalsium, dan vitamin C.
“Ini adalah salah satu yang akan kami sampaikan kepada Badan Gizi Nasional.” — Prof. Rini Sekartini, Centre Director SEAMEO RECFON, 9 September 2026
Bagi orang tua di Langkat dan daerah lain, temuan ini jadi pengingat bahwa memantau porsi makan saja tidak cukup. Kualitas menu — variasi sayur, buah, sumber protein, dan lemak sehat — sama pentingnya dengan jumlah kalori. Sumber protein untuk anak yang bervariasi, misalnya, turut membantu penyerapan zat besi dan seng yang lebih optimal.
Bukan Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis

SEAMEO RECFON menegaskan riset ini bukan alat ukur keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON, Dr. dr. Brian Sri Prahastuti, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan beberapa tahun sebelum MBG berjalan, sehingga tidak relevan dijadikan tolok ukur program tersebut.
“Kami tidak dalam rangka mengevaluasi pelaksanaan program MBG dari pemerintah.” — Dr. dr. Brian Sri Prahastuti, Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON
Ia menambahkan, kebutuhan menu bergizi berbeda-beda antardaerah, sehingga hasil riset ini lebih tepat dibaca sebagai gambaran situasi gizi anak secara nasional — bukan rapor satu program. SEAMEO RECFON juga menekankan kondisi kekurangan gizi mikro tidak bisa disamaratakan di setiap wilayah, karena pola makan dan akses pangan tiap daerah punya karakteristik sendiri.
Konteks ini penting dipahami orang tua maupun tenaga kesehatan di daerah: temuan nasional memberi gambaran umum, tapi kondisi gizi anak tetap perlu dicek per individu dan per wilayah, termasuk lewat pemantauan tumbuh kembang rutin di posyandu atau puskesmas.
Kenali Tandanya, Jangan Tunggu Sampai Terlambat

Gejala kekurangan gizi mikro memang tidak selalu tampak jelas di awal. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai orang tua antara lain anak mudah lelah dan kurang konsentrasi (indikasi kekurangan zat besi), gusi mudah berdarah atau luka lama sembuh (indikasi kekurangan vitamin C), serta nafsu makan menurun disertai pertumbuhan tinggi badan yang melambat (indikasi kekurangan seng).
Konsep ini pernah disebut sebagai “kelaparan tersembunyi” oleh dokter spesialis anak dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH dalam Seminar Nasional Gizi Anak 2025 — istilah untuk menggambarkan anak yang tampak sehat secara fisik namun sebenarnya kekurangan nutrisi penting yang berdampak pada perkembangan kognitif dan sistem imun jangka panjang.
Pola asuh turut berperan besar dalam mencegah kondisi ini sejak dini. Selain memastikan menu bervariasi, pembiasaan makan yang konsisten dan pemantauan tumbuh kembang berkala menjadi kunci — sebagaimana dibahas dalam panduan pola asuh cegah stunting yang juga relevan untuk mencegah kekurangan gizi mikro, karena stunting dan defisiensi mikronutrien sering muncul bersamaan akibat pola makan yang sama-sama tidak seimbang.
Kapan Perlu Suplemen, Kapan Cukup dari Makanan?

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa pemberian vitamin dan mineral pada dasarnya adalah suplementasi — hanya diberikan bila kebutuhan mikronutrien anak tidak terpenuhi dari makanan sehari-hari atau ada indikasi klinis tertentu. IDAI merujuk pedoman World Health Organization (WHO) yang menyesuaikan jenis suplementasi dengan kondisi dan prevalensi masalah gizi di masing-masing negara.
Artinya, langkah pertama tetap memperbaiki menu harian, bukan langsung memberi multivitamin. Sumber folat bisa didapat dari sayuran hijau, kacang-kacangan, dan hati ayam. Kalsium tersedia pada susu, ikan teri, dan produk olahan kedelai. Vitamin C melimpah pada jeruk, jambu biji, dan tomat, sementara seng banyak terkandung dalam telur, daging, dan makanan laut. Lemak sehat untuk anak — seperti dari alpukat dan minyak zaitun — juga membantu penyerapan vitamin larut lemak seperti vitamin A dan D.
Jika mencurigai anak kekurangan zat gizi mikro tertentu, langkah paling akurat adalah pemeriksaan bersama dokter, bukan menebak-nebak lewat gejala saja. Konsultasikan dengan dokter anak sebelum mengambil tindakan, termasuk sebelum memberikan suplemen tambahan.
Kronologi Temuan Riset

| Waktu | Kejadian | Sumber |
|---|---|---|
| Beberapa tahun sebelum MBG berjalan | Penelitian gizi mikro terhadap 4.292 siswa di 12 kabupaten/kota dilakukan | SEAMEO RECFON, via detikEdu |
| Rabu, 9 September 2026 | Hasil riset dipaparkan dalam konferensi pers di Jakarta | detikEdu (Cicin Yulianti) |
| Tahap selanjutnya | Rekomendasi kebijakan disampaikan ke BGN, Kemenkes, Kemendikdasmen, dan 11 negara anggota SEAMEO | SEAMEO RECFON |
Apa Selanjutnya?

SEAMEO RECFON menyatakan hasil riset ini akan didiseminasikan hingga ke tingkat kabupaten, termasuk ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), agar rekomendasi kebijakan bisa diakses lebih luas — tidak berhenti di kementerian pusat saja. Rencana ini masuk dalam strategi lima tahun SEAMEO RECFON ke depan.
Bagi orang tua, langkah paling realistis saat ini bukan menunggu kebijakan baru, melainkan mulai dari meja makan sendiri: variasikan menu, kurangi ketergantungan pada makanan olahan, dan rutin memantau tumbuh kembang anak ke tenaga kesehatan.
Artikel ini disusun oleh Jared untuk pagakablangkat.org berdasarkan laporan detikEdu (9/9/2026) dan sumber IDAI, dilengkapi konteks bagi pembaca di Kabupaten Langkat dan sekitarnya. Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis.